Pengertian Hak Guna Bangunan

Sebelum Anda membeli rumah, terlebih dulu mempelajari status dan kelengkapan surat yang dimiliki. Jangan sampai karena sudah terlanjur suka dengan unitnya, membuat Anda lalai dan tidak memperhatikan kelengkapannya. Sebagai langkah awal, perhatikan status hunian atau rumah tersebut agar dimasa depan Anda tidak merasa rancu. Dan menyelidiki status tanah juga perlu agar tak timbul masalah terkait legalitasnya dikemudian hari. Selain itu Anda harus mengerti apa pengertian Hak Guna Bangunan dan apa itu Sertifikat Hak Milik (SHM).

Pengertian Hak Guna Bangunan

Dalam perizinan mengenai sebuah bangunan, tentu Anda sudah familiar mendengar tentang Hak Guna Bangunan atau disingkat dengan HGB. Sesuai dengan namanya, Pengertian Hak Guna Bangunan (HGB) adalah kewenangan yang diberikan oleh pemerintah atau suatu hak yang didapatkan untuk menggunakan sebuah lahan yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu 30 tahun yang atas permintaan pemegang hak mengikat keperluan serta keadaan bangunan-bangunannya dan dapat diperpanjang sampai dengan jangka waktu maksimum 20 tahun.

Yang mempunyai  HGB hanya diberikan kuasa untuk memberdayakan lahan baik untuk mendirikan bangunan ataupun keperluan lain dalam jangka waktu tertentu. Jadi, pemilik properti dengan status HGB hanya memiliki bangunannya saja, sedangkan tanahnya masih milik negara. Dengan sertifikat HGB Anda tak serta merta bebas dalam penggunaan lahannya karena harus sesuai dengan perijinan. Tujuan lainnya yang sesuai dengan kriteria sertifikat HGB adalah ketika Anda berencana untuk memiliki properti dengan penggunaan yang hanya sementara. Properti dengan status HGB juga cocok untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang bersifat komersial.

Baca Juga : Yuk Libatkan Anak dalam Mendekor Kamarnya dengan 4 Cara Ini

Beda Hak Guna Bangunan dan Sertifikat Hak Milik

Setelah mengetahui pengertian Hak Guna Bangunan ada baiknya Anda juga mengetahui perbedaan HGB dan SHM. Perbedaannya dapat dilihat dari tingkat kuasa dan jangka waktu kepemilikan properti. Jika Sertifikat Hak Milik  dapat diwariskan dan tidak memiliki batasan waktu kepemilikan maka Hak Guna Bangunan  memiliki batasan waktu dan diperkenanan untuk diperpanjang masa penggunaannya.   Sertifikat Hak Milik pun bisa di gunakan sebagai jaminan kepada lembaga keuangan jika Anda ingin mengajukan kredit hal ini berbeda jika Anda hanya memiliki sertifikat Hak Guna Bangunan. Oleh karena itu, bila bertekad untuk menetap di bangunan dan tanah dalam jangka waktu lama atau berencana untuk investasi jangka panjang, sebaiknya membeli properti dengan status Sertifikat Hak Milik (SHM).

Ubah Hak Guna Bangunan Menjadi Sertifikat Hak Milik

Anda dapat mengubah Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik jika memang berencana memiliki seutuhnya. Proses HGB ke SHM sama harus diawali dengan mengurus ke kantor pertanahan dimana lahan yang akan diproses berada. Ketentuan lahan yang akan mengalami peningkatan hak ini tak lebih dari 600 meter persegi dan pemegang HGB yang berlaku atau sudah mati adalah WNI karena WNA tidak diperbolehkan untuk memiliki properti dengan SHM. Untuk melakukan proses HGB ke SHM, surat-surat yang dilampirkan diantaranya adalah sertifikat asli HGB yang statusnya akan diubah, fotokopi IMB (Izin Mendirikan Bangunan).

Besar pengeluaran biaya dari HGB menjadi SHM ditentukan dengan NJOP kavling yang akan diproses. Rumus yang digunakan untuk menghitung adalah 2% x (NJOP tanah – Rp. 60 juta). Atau bila Anda tidak ingin ribet mengurus sendiri Anda bisa dengan Cara lain adalah Anda bisa menggunakan jasa notaris PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah).

Demikianlah pengertian Hak Guna Bangunan menurut Pacific Garden Style yang bisa Anda jadikan sebagai pengetahuan sebelum membeli apartemen. Semoga bermanfaat ya.

Hak Guna Bangunan yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Properti

Related posts:

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *